Friday, June 5, 2009

Masalah Cerita-Cerita Masalah Anda

Temen gue pernah ngomong gini ke gw,

Mungkin niat lo ngomong gitu adalah niat baik, ga ada niat buat jelek2x in atau nyinggung orang. Tapi interpretasi orang lain terhadap apa yg lo omongkan itu blm tentu sama dengan niat lo. Justru interpretasi orang lain itu yang akan menentukan apa yg terjadi selanjutnya.
Setuju juga sih. Mungkin hal ini juga yang terjadi di masyarakat kita beberapa hari ini. Tentang seorang ibu yang lagi ramai diberitakan. Seorang netters yang sekarang grup pendukungnya di fesbuk udah beranggotakan ribuan orang. Simply karena dia cerita cerita. Cerita ke temennya tentang satu kejadian heboh yang dia alami. Sama kayak gue, orang orang di list di right toolbar, dan ga-terhitung-banyaknya orang lainnya di dunia ini maupun dunia luar sana *kalo ada* yang nge-blog, nge-notes di fb, atau nge-diary konvensional di atas kertas dengan pensil, bolpen, atau tinta cina.

Tapi kenapa dia cerita kayak gitu bisa dituntut dan ditangkap, padahal mungkin kita-kita disini pernah cerita masalah kita di berbagai institusi (yg deket aja.. mungkin soal sekolah) sampe marah2x gitu, ngga diapa2x in? (bukannya gw minta diapa2x in juga ya..)

Dari komentar berbagai pihak yg berwenang yg gw baca di koran maupun lihat di berita tivi dan infotainment (ini entertainment sekarang kayaknya semua dibahas ya? udah kekurangan gosip artis?) nggak semua dari mereka definitif membela curhat (in this case berupa pengaduan) si ibu ini. Yang gw tangkep dari komen pihak berwenang itu adalah mereka juga mengkritisi cara menyampaikan pendapatnya.

Seperti gw setuju dengan pendapat temen gw di atas, gw juga setuju klo kita ga bisa seenak jidat nulis apa aja. Ada filter-filter dan pengendalian opini kita yang ada disana. Bisa curhat (yang lebih ke opini), tapi klo udah menyangkut penyebarluasan pengaduan, apakah ngga sebaiknya kita menyodorkan fakta juga disamping opini kita? Kata-kata yang dipakai juga sebaiknya dipikir dulu, itu yang sebenarnya nggak, atau cuma opini kita atau bahkan itu bumbu kita biar orang lain baca apa yg kita tulis. Apalagi kalo masalahnya sensitif. Kesannya itu menempatkan orang yg dikomplain di posisi bersalah sedangkan si penulis di atas angin, akhirnya menyinggung dia. Itu kata guru yg ngajarin gue mengarang argumentasi sih. Ditambah kalo kita udah masukin nama dia secara eksplisit. Kalo ceritanya ditulis dengan nuansa hiperbolisme, udah masuk ke gosip tuh. Atau bahkan fitnah. Komplain boleh, tapi pake kata-katanya yang enak gitu, jangan emosi. Kan yang terima komplain juga jadi lebih enak bacanya. Dihubungkan lagi dengan makna dan interpretasi orang-orang yang baca. Ya, kadang maksud kita yang simply cuma mau cerita-cerita malah berbuntut panjang karena salah interpretasi. Ujung2x nya malah dinilai ngasih misleading information, apalagi kalo kondisi emosional kedua belah pihak lagi kurang baik.

Disini gw ngga mau membela salah satu pihak. Sebagai seorang penulis, blogger, dan fotografer yang tiga-tiganya masih di tingkat di bawah amatir, gw hanya ingin nge-share apa yg gw pelajari dari semua ini.

Seperti kata orang-orang yang sering gw liat di berita, koran maupun infotainment,

"ini pembelajaran buat kita semua"

Nggak ada yg salah dengan menyampaikan pendapat, apalagi dengan adanya demokrasi. Tapi sampaikanlah apa yg ingin anda sampaikan dengan niat baik dan juga dengan makna yang lurus daripada anda sendiri celaka. Hormatilah etika menulis dan berbagai etika lainnya yang ada. Jangan sotoy, asal nulis padahal anda nggak tahu banyak tentang apa yg dialami (boleh sih, paling entar digeplak ama yang terlibat disono. klo cuma lucu2x an temen sendiri sih gapapa.. tapi klo udah masalah begini ntar repot..). Hak Asasi nggak cuma punya si pelapor, yang dilaporkan juga punya. Itulah kenapa ada asas Praduga Tak Bersalah, ya kan?

Dan jangan pake bumbu. Kalo udah jago masaknya, ntar ga bisa dibedain mana yang bumbu mana yg bukan. Efek buat anda ga cuma di dunia, di akhirat jg bisa apalagi kalo korban anda menderita akibat apa yg anda sampaikan. :D


Aniway,
si fotomodel korban KDRT kok ngga visum visum sih? Sampe kemarin siang gw liat malah curhat sono-sini di media sampe katanya sakit? Kapan visumnya? Periksa kesehatan capres-cawapres aja katanya 6-7 jam gitu. Klo dia siang-sore wawancara di berita siaran langsung, kpn ke RS?
Jujur sih, lama-lama saya meragukan semua yang dia omongkan di media

Katanya mau ke pengadilan. Udah punya lawyer segala. Tapi sore ini di infotainment katanya pengacaranya mengundurkan diri. Kayaknya makin seru aja kalo udah gini.

Pengadilan butuh bukti neng, bukan simpati..

Bingung saya ama Indonesia.. Sampe males nonton tivi.. Dimana-mana beritanya ini terussssss.... Reporternya nggak tahu ya kalo omongan yang sama udah pernah diomongin di media lain, bahkan di acara siaran lain yang satu stasiun sama dia? Pertanyaannya sama semua. Nggak ada yg lain apa? Kasus korupsi aja pertanyaannya macem-macem. Kok menghadapi dia yang tidak merugikan negara dan rakyat kebanyakan aja kalian ga bisa kreatif?
Baru kemarin aja saya liat ada yang menghadapkan si korban dengan kerabat si pelaku. Ini baru berita! Tinggal tunggu gimana hasil akhirnya. siapa yang bohong. Siapa yang bersalah. Siapa yang cari muka. Siapa yang punya otak psikopat.

Asalkan bukti nyata (dalam hal ini visum) itu ada.
Yang se-jenius Shin'ichi Kudo dan Sherlock Holmes aja ga bisa cari penyelesaian kasus kalo ga ada bukti nyata.

Jadi kapan?


CAPEK.


Yaudahlah,
mending nonton tivi waktu Indonesia Super Series tayang.
Semangat Indonesia! China katanya full team loh.. *jengjengjengjeeenggg... bisa berburu foto deh! hahaha!*
Terutama di sektor putri *masih selalu serem ngebayangin lututnya Maria Kristin*

2 comments:

bowo said...

Wah, lagi rame itu ya di Indo... Udaahh Ai-chan, cuekin aja, haha.

Btw, aku mo balik ke Jkt juga nih tanggal 21 Juni rencananya.. Horee.. bisa pulang 9 hari.. :))

Haibara Kaoru Marcella said...

heheheheheheh
omedetou, bowo-senpai~!